Pengunjung Website Tidak Datang untuk Mengagumi Desain
Ada satu kesalahan yang cukup sering terjadi ketika bisnis membuat website: terlalu fokus pada tampilan.
Warna sudah disesuaikan dengan brand. Banner dibuat besar. Animasi ditambahkan. Menu dibuat banyak. Bahkan ada berbagai fitur yang terlihat canggih.
Tapi setelah semuanya selesai, muncul pertanyaan sederhana:
“Setelah masuk ke website ini, pelanggan harus melakukan apa?”
Karena pada akhirnya, pelanggan tidak membuka website bisnis hanya untuk melihat betapa bagusnya desain yang dibuat.
Mereka biasanya datang karena punya kebutuhan.
Mereka ingin mencari informasi produk, melihat harga, mengetahui lokasi, bertanya, melakukan pemesanan, mengisi formulir, atau sekadar memastikan apakah bisnis tersebut benar-benar terpercaya.
Artinya, website seharusnya dibangun berdasarkan perjalanan pelanggan, bukan sekadar daftar menu.
Bayangkan Pengunjung Baru Pertama Kali Mengenal Bisnis
Misalnya ada seseorang yang mencari jasa pembuatan aplikasi.
Dia menemukan sebuah bisnis melalui Google atau media sosial, kemudian masuk ke website.
Dalam beberapa detik pertama, biasanya muncul beberapa pertanyaan di kepalanya:
- Ini bisnis apa?
- Mereka menyediakan layanan apa?
- Apakah mereka bisa membantu kebutuhan saya?
- Pernah mengerjakan proyek apa?
- Bagaimana cara menghubunginya?
- Apakah saya bisa mendapatkan penawaran?
Kalau semua jawaban tersebut mudah ditemukan, kemungkinan pengunjung melanjutkan ke tahap berikutnya menjadi lebih besar.
Sebaliknya, kalau pengunjung harus membuka banyak halaman hanya untuk memahami bisnis tersebut, mereka bisa saja menutup website dan mencari pilihan lain.
Inilah mengapa customer journey penting dalam pengembangan website.
Dari “Saya Tidak Tahu” Menjadi “Saya Mau Bertanya”
Website bisnis yang baik seharusnya mampu mengubah pengunjung dari kondisi:
“Saya belum tahu bisnis ini.”
menjadi:
“Oh, ternyata mereka bisa membantu kebutuhan saya.”
lalu:
“Saya ingin tahu lebih lanjut.”
dan akhirnya:
“Saya mau menghubungi mereka.”
Perubahan tersebut tidak terjadi hanya karena desain yang bagus.
Informasi harus disusun dengan urutan yang masuk akal.
Contohnya:
Beranda ? Layanan ? Portofolio ? Detail layanan ? Testimoni ? Kontak
Pengunjung pertama kali mengenal bisnis, kemudian memahami layanan, melihat bukti pekerjaan, mendapatkan kepercayaan, lalu diberikan jalur yang jelas untuk menghubungi bisnis.
Sederhana, tetapi sering kali justru bagian inilah yang terlupakan.
Setiap Tombol Harus Punya Alasan
Pernah melihat website dengan tombol seperti:
“Pelajari Selengkapnya”
tetapi ketika diklik malah membawa pengunjung ke halaman yang tidak terlalu membantu?
Atau ada tombol “Hubungi Kami”, tetapi setelah diklik pengunjung masih harus mencari nomor WhatsApp sendiri?
Hal kecil seperti ini bisa membuat pengalaman pengguna terasa merepotkan.
Sebuah tombol seharusnya memiliki tujuan yang jelas.
Misalnya:
Lihat Produk
? membawa ke daftar produk.
Lihat Detail
? membawa ke informasi lengkap produk.
Konsultasi Sekarang
? langsung menuju WhatsApp atau formulir konsultasi.
Minta Penawaran
? membuka formulir yang memang dirancang untuk kebutuhan penawaran.
Dengan begitu, pengunjung tidak perlu menebak-nebak apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Website dan Aplikasi Bisa Membagi Peran
Tidak semua kebutuhan harus dimasukkan ke dalam website.
Dalam beberapa bisnis, website bisa menjadi pintu masuk, sementara aplikasi mobile menjadi alat untuk pelanggan yang sudah lebih sering berinteraksi dengan bisnis.
Contohnya bisnis layanan.
Website dapat digunakan untuk:
- memperkenalkan layanan,
- menampilkan informasi,
- mendapatkan pelanggan baru,
- menampilkan portofolio,
- menyediakan kontak.
Sedangkan aplikasi dapat digunakan untuk:
- login pelanggan,
- melihat status layanan,
- menerima notifikasi,
- melakukan pemesanan,
- melihat riwayat transaksi,
- mengakses informasi pribadi.
Dengan pembagian seperti ini, masing-masing platform mempunyai fungsi yang jelas.
Website tidak dipaksa melakukan semuanya, begitu juga aplikasi tidak dibuat hanya karena “bisnis sekarang harus punya aplikasi”.
Jangan Membuat Fitur Hanya Karena Bisa
Teknologi memungkinkan bisnis membuat banyak hal.
Dashboard bisa dibuat. Notifikasi bisa dibuat. Sistem booking bisa dibuat. Integrasi pembayaran bisa dibuat. Aplikasi mobile juga bisa dikembangkan.
Tetapi pertanyaannya bukan:
“Fitur apa yang bisa kita buat?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Masalah apa yang ingin kita selesaikan?”
Misalnya pelanggan sering bertanya:
“Pesanan saya sudah sampai mana?”
Daripada admin menjawab pertanyaan yang sama setiap hari, bisnis bisa mempertimbangkan fitur pelacakan pesanan.
Jika pelanggan sering kesulitan melakukan reservasi, website dapat menyediakan sistem booking.
Jika pelanggan membutuhkan informasi secara berkala, aplikasi bisa menggunakan notifikasi.
Jadi fitur muncul karena ada masalah yang ingin diselesaikan, bukan sekadar untuk membuat website terlihat semakin canggih.
Website yang Baik Membuat Pelanggan Tidak Perlu Banyak Bertanya
Ini salah satu indikator sederhana yang bisa digunakan bisnis.
Coba perhatikan pertanyaan yang paling sering masuk melalui WhatsApp atau media sosial.
Misalnya:
“Harganya berapa?”
“Lokasinya di mana?”
“Bisa pesan online?”
“Jam bukanya sampai kapan?”
“Ada layanan apa saja?”
“Cara daftar bagaimana?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya bisa menjadi petunjuk mengenai informasi apa yang perlu diperjelas di website.
Dengan begitu, website bukan hanya menjadi tempat memajang informasi, tetapi juga membantu mengurangi pekerjaan berulang di sisi bisnis.
Mulai dari Masalah, Baru Pilih Teknologi
Tidak semua bisnis membutuhkan website yang kompleks.
Tidak semua bisnis membutuhkan aplikasi mobile.
Dan tidak semua bisnis membutuhkan puluhan fitur.
Yang dibutuhkan setiap bisnis adalah sistem digital yang sesuai dengan cara mereka bekerja dan cara pelanggan mereka berinteraksi.
Karena itu, proses pengembangan sebaiknya dimulai dengan memahami:
- Siapa pengguna website atau aplikasi?
- Apa yang mereka cari?
- Masalah apa yang sering mereka alami?
- Apa tindakan yang ingin dilakukan pengguna?
- Bagaimana sistem membantu bisnis menjalankan proses tersebut?
Setelah pertanyaan itu jelas, barulah teknologi dipilih.
Hasilnya biasanya jauh lebih masuk akal daripada membuat fitur sebanyak mungkin lalu mencari-cari alasan untuk menggunakannya.
Ciptareka: Membangun Sistem Berdasarkan Kebutuhan Bisnis
Setiap bisnis memiliki cara kerja yang berbeda.
Karena itu, Ciptareka membantu bisnis mengembangkan website dan aplikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan, bukan sekadar membuat tampilan digital yang terlihat bagus.
Mulai dari website company profile, sistem informasi, aplikasi bisnis, hingga sistem yang membutuhkan integrasi dengan proses kerja internal, semuanya dapat dirancang berdasarkan kebutuhan pengguna dan alur bisnis.
Karena website dan aplikasi seharusnya bukan hanya “ada”, tetapi benar-benar bekerja untuk bisnis.
Untuk info lebih lanjut bisa hubungi kami:
WhatsApp: +62 823-76681977
Website: ciptareka.id
Instagram: @ciptareka.id